Kaukus17++ Jalan Lain Menuju Demokrasi - Another Democracy is Possible
Halaman Depan > Artikel 
28 Jul 2010

Akankah Kearifan Lokal Mampu Menyelamatkan Nelayan?

Pada suatu seminar bertema dampak perubahan iklim dan pemanasan global, seorang nelayan tradisional melontarkan pertanyaan menggelitik penuh teka-teki. Jika di laut hanya tersisa seekor ikan saja, lalu siapa yang berhak mendapatkannya ? Pertanyaan itu sontak mengundang diskusi perdebatan yang seru. Semua memberikan argumen berdasarkan ilmunya masing-masing. Ahli ilmu hukum menjawab, tergantung ikannya sedang ada di laut teritorial negara mana. Ahli penangkapan ikan mengusulkan agar diadakan lomba alat tangkap ikan saja, maksudnya agar ketahuan alat tangkap ikan dari negara mana yang paling canggih. Ahli lingkungan malah mengatakan kemungkinan tidak satu negara pun yang mau menangkapnya. Alasannya, ikan itu ternyata sudah lama tinggal di Indonesia sehingga kemungkinan juga sudah tercemar limbah tailing pertambangan. Tidak ada kesepakatan atau jawaban tunggal dari pertanyaan menggelitik nelayan tersebut. Cerita tadi hanyalah sebagai kiasan untuk menggambarkan ketakutan berbagai pihak (dalam hal ini kasus masyarakat nelayan) terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang menjadi isu internasional itu. Sebenarnya apakah memang akan sebegitu parah dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global pada kehidupan nelayan hingga kemungkinan laut hanya akan menyisakan seekor ikan saja? Apakah benar yang paling rentan terhadap ancaman perubahan iklim dan pemanasan global adalah nelayan dan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil? Apakah benar di masa mendatang pulau-pulau kecil akan tenggelam? Katakanlah jawaban dari pertanyaan itu “iya” atau mendekati “iya”, lalu bagaimana pemerintah Indonesia membuat kebijakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim itu? Apakah kebijakan yang dibuat juga akan mengarah untuk memperkuat kearifan local sebagai strategi dalam mengatasi kerentanan dari pulau-pulau kecil beserta keanekaragaman hayatinya? Rasanya pakar-pakar yang ditanya nelayan “usil” tadi tidak akan lagi berdebat kusir seperti ketika mendapatkan pertanyaan pertama tadi. Pada umumnya pasti akan serempak dengan jawaban yang sama, yakni tidak ada. Kalapun sudah ada kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, kebijakan itu masih berorientasi pada pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatra dan Papua. Lalu yang muncul program-program seperti REDD (Reducing Emission from Deforestation and Degradation), Carbon Trade dan Carbon Voluntary yang dianggap dapat menyumbang pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kembali ke seminar tadi. Karena tidak mendapatkan jawaban yang pasti, si nelayan yang sudah sangat resah dan gelisah memilih meninggalkan ruang seminar. Dia pulang dan menghubungi teman-temannya agar datang ke rumahnya. Dia ingin mengajak bermusyawarah mencari strategi yang akan dilakukannya dalam mengantisipasi kondisi yang bakal terjadi. Si istri diminta menyiapkan hidangan yang paling spesial. Kopi panas, ubi rebus serta pisang goreng. Musyawarah berlangsung seru tak kalah dengan sidang di parlemen. Dibumbui asap tebal dari rokok lintingan yang membumbung. Terlihat wajah-wajah optimis nelayan bahwa mereka pasti bisa mengatasi perubahan iklim pemanasan global. Apa sebenarnya yang dibicarakan sehingga mereka begitu optimis? Mau tahu? Para nelayan masih punya Tuhan. Para nelayan masih menyelenggarakan upacara selamatan laut sebagai bentuk doa kepada Yang Maha Kuasa agar dijauhkan dari segala macam mara bahaya. Para nelayan pun bersepakat memperkuat awig-awig, norma adat, untuk mengatur tata cara mengelola sumber daya kelautan. Ini berarti, mereka sama saja membincang tata cara dalam mencegah dan menghadapi bencana pemanasan global. Mereka mau bergotong royong membangun tanggul-tanggul penahan ombak dan memilih meninggikan rumah-rumah panggungnya daripada berdebat tak karuan. Dari para nelayan tersebut, sebenarnya kita bisa belajar tentang bagaimana mereka mencoba membangun harmoni alam. Mereka berupaya menjaga keseimbangan antara mikro-kosmos dan makro-kosmos, manusia dan alam yang melingkupinya. Pada mereka kita belajar menghargai alam dengan doa-doa serta upaya menjaga ketahanan dan adaptasi pada segala macam kemungkinan bahaya di lautan. Pada diri nelayan, kearifan lokal yang begitu kaya itu tersimpan. (Wahyuddin, Relawan Santiri Foundation)
Berbagi ke situs jejaring:
  • Facebook
  • TwitThis
  • Google Bookmarks
  • Digg
  • del.icio.us
  • MySpace
  • Technorati
  • Email to Friend
Komentar
Kearifan nelayan di NTB bisa menjadi contoh pengelolaan kearifan lokal... Salam hangat untuk nelayan bijak....
sindu tile, 05 Aug 10 08:39
Formulir Komentar





Wajib di isi [may not leaved blank]
Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan Kaukus17++. Pengelola berhak mengubah/menghapus kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirimkan SMS anda ke:
08180-438-9000
dgn diawal kata:
kaukus <spasi> isi pesan anda

15/7/10 15:44 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:44 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:43 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:43 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:30 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:30 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:29 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:29 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:28 : 628180438XXXX :
Terimakasih atas sms anda

15/7/10 15:28 : XXXX :

arsip sms syndicate sms
28 Jul 10 » muhamad ridlo
Sindhu Kaukus 17++ bernama asli Tile. Rupanya dia menyamar jadi Sindhu. Mungkin yang dimaksud Sindhunata, seorang ksatria intelektual Indoesia
28 Jul 10 » Sholah
Indahnyee... kalo kita bisa berbagi cerita dan pengalaman. betul betul betul...
28 Jul 10 » imron
apa kabar teman-teman peserta pelatihan pewartaan dan media informasi?
29 Nov 08 » Putut Gunawan
Terimakasih Isnu, tampilannya jadi flamboyan deh...... selamat bertugas.
28 Nov 08 » wahyudi
Salam Kenal Semuanya?
Formulir Suara Warga







Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan . Pengelola berhak mengubah/menghapus kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan